IPOP Implementasikan Program Pemberdayaan Untuk Dukung Kesejahteraan dan Produktivitas Petani Sawit

Jakarta, 26 April 2016 – Petani merupakan aktor utama di dalam industri kelapa sawit di Indonesia. Dari 10,46 juta hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia, hanya 40% dari perkebunan tersebut dimiliki oleh petani dan berkontribusi terhadap 10 juta ton CPO Indonesia. Untuk itu, petani berperan penting dalam masa depan industri dalam hal keberlanjutan dan produktivitas.

IPOP saat ini bekerja sama dengan berbagai mitra untuk mengimplementasikan program pemberdayaan petani untuk menyelesaikan permasalahan nyata mereka di lapangan. Contohnya, inisiatif identifikasi dan pemetaan petani independen serta penelitian untuk mengidentifikasi insentif yang dibutuhkan para petani untuk meningkatkan produktivitas serta bertransisi menuju praktek berkelanjutan di Kalimantan Tengah, Riau, dan Sumatera Selatan

Inisiatif ini dimaksudkan untuk mendukung para anggota IPOP dan mitra petani lainnya untuk membuat program yang efektif dalam  memberdayakan petani kelapa sawit dengan didukung data dan informasi komprehensif. Setelah proses identifikasi dan pendataan, petani swadaya ini dapat mengakses berbagai program pemberdayaan sesuai dengan hasil penelitian, termasuk pendampingan dalam pembentukan institusi, pendampingan dalam hal legal, pelatihan praktik bertani berkelanjutan untuk bisa mendapatkan sertifikasi. Selain itu, inisiatif ini juga bertujuan untuk mendukung pemerintah lokal dan nasional dalam mengimplementasikan program strategis mereka yang didesain untuk petani independen.

Nurdiana Darus, DIrektur Eksekutif IPOP menegaskan, “Melalui program pemberdayaan petani seperti ini, IPOP dan para anggota dapat mengetahui kondisi petani secara nyata di lapangan, termasuk kebutuhan dan hambatan yang mereka alami. Identifikasi ini memungkinkan kami untuk memberikan solusi yang tepat untuk dimasukkan ke dalam program pemberdayaan petani, sehingga mereka bisa mengimplementasikan praktik berkelanjutan secara nyata.

Hingga saat ini, semua penandatangan ikrar IPOP – Asian Agri, GAR, Wilmar, Cargill, Musim Mas dan Astra Argo Lestari – sangat aktif dalam mengimplementasikan program pemberdayaan petani, baik plasma maupun swadaya. Program pemberdayaan petani tersebut akan terus dilakukan oleh masing-masing perusahaan maupun secara kolektif melalui program pemberdayaan IPOP. Upaya kolektif tentunya akan membawa dampak yang lebih besar terhadap peningkatan produktivitas dan kapasitas petani di Indonesia.

“Masing-masing perusahaan terus memberdayakan petani tersebut secara individu maupun secara kolektif melalui program pemberdayaan dalam IPOP. Upaya kolektif ini, tentunya, akan membawa dampak yang lebih besar terhadap peningkatan produktivitas dan kapasitas petani di Indonesia,” jelas Nurdiana Darus.

Program Pemberdayaan Petani Cargill

Hingga saat ini, Cargill sangat aktif mendukung pemberdayaan petani di perkebunan milik Cargill yang berada di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. Sebanyak 21.000 petani plasma dan dan mandiri telah bergabung dengan berbagai program peningkatan kapasitas, seperti Program Pengembangan Petani dimana Cargill telah membimbing dan mengajarkan petani praktek manajemen dalam produksi kelapa sawit yang berkelanjutan. Praktik-praktik tersebut selaras dengan standar keberlanjutan yang diakui oleh ISPO dan RSPO.

Bambang Gianto, petani plasma dari PT. Hindoli sekaligus Ketua KUD Mukti Jaya membagi pengalaman kemitraannya dengan Cargill yang telah membantu petani kelapa sawit kecil untuk bisa mencapai standar global dalam pertanian berkelanjutan. “Kami bisa berhasil hari ini dikarenakan kerjasama yang erat antara kami sebagai petani kecil dengan perusahaan tempat kami bekerja. Kami ingin memberdayakan dan menginspirasi petani kecil lainnya di Indonesia agar kelak bisa memberikan masa depan yang aman untuk anak-anak dan keluarga mereka melalui praktik-praktik berkelanjutan.”

“Petani merupakan bagian yang sangat penting dalam memenuhi permintaan global terhadap kelapa sawit berkelanjutan, mengingat lebih dari 40 % produksi Cargill sebagian dihasilkan secara konsisten dari petani. Praktik berkelanjutan telah membawa dampak yang sangat besar terhadap kehidupan petani plasma dan swadaya yang dibantu oleh Cargill. Praktik ini terbukti telah meningkatkan pendapatan dari waktu ke waktu, memungkinkan operasional yang lebih efisien, tepat guna, dan menghasilkan panen yang lebih tinggi,” John Hartmann, CEO Cargill Tropical Palm.

Program Pemberdayaan Petani Wilmar

Selain memegang hak atas tanah untuk lahan perkebunan, Wilmar mengelola sekitar 31.428 hektar lahan perkebunan kelapa sawit di bawah skema plasma di Indonesia. Skema ini memungkinkan kelompok perusahaan untuk berinvestasi dalam pengembangan kapasitas petani kecil mereka, dan sekarang menjangkau petani independen.

Menurut Achmad Chamdani, Internal Auditor Kelompok Petani di pabrik pengolahan Tania Selatan, Sumatera Selatan menyatakan, “Meskipun kami petani independen, kami berterima kasih atas kesempatan yang diberikan Wilmar yang membantu proses sertifikasi RSPO dan membuktikan bahwa kami bisa mengimplementasikan praktik berkelanjutan. Berkat dukungan Wilmar, maka kami berhasil lulus penilaian sertifikasi RSPO di awal tahun ini. Hal terpenting yang perlu dicatat adalah kami telah memperoleh manfaat dari pengalaman bersama Wilmar dan memiliki kepercayaan penuh terhadap petani. Program sertifikasi telah mengajarkan kami untuk melakukan manajemen perkebunan yang lebih baik, bagaimana memprediksi hasil panen, dan bagaimana menggunakan pupuk secara optimal untuk peningkatan hasil panen secara keseluruhan.”

Wilmar berkomitmen untuk terus membeli tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan oleh petani di bawah manajemennya atau dengan pihak lain dimana mereka bekerja. “Petani plasma selalu menjadi bagian dari komitmen sertifikasi kami. Saat ini kami memperluas komitmen sampai ke petani swadaya yang praktek dan kualitasnya sering diabaikan oleh industri, dikarenakan cara bertani mereka yang dikelola dengan aturan sendiri saja. Banyak perusahaan menyadari bahwa upaya sertifikasi petani swadaya merupakan hal yang sanagt menantang, namun keberhasilan program sertifikasi petani independen Wilmar di pabrik Tania Selatan merupakan bukti bahwa hal tersebut dapat dilakukan. Kelompok petani Tania Selatan akan menjadi kelompok petani independen satu-satunya terbesar di dunia yang akan disertifikasi di bawah sertifikasi RSPO dengan lahan seluas 5.500 hektar dan 2.700 anggota petani,” kata Alfat Agus Salim, Kepala Sertifikasi Petani Wilmar Indonesia.

Program Inovasi Keuangan Golden Agri Resources

Vice President Innovative Financing GAR, Reza Ardiansyah, mengatakan, GAR menargetkan tambahan 1.000 peserta program pembiayaan bagi program peremajaan kelapa sawit untuk petani swadaya yang bermitra dengan perusahaan (innovative financing) pada tahun ini. GAR telah memulai program tersebut sejak 2014 dengan jumlah petani binaan awal sebanyak 330 orang.

“Program Innovative financing ini juga memberikan skema pembiayaan yang menarik dibandingkan pembiayaan perbankan. Pembiayaan disalurkan setiap bulan dan nantinya pembayaran bunga serta nominal kredit yang dipinjam bisa dikembalikan ke perusahaan setelah lima tahun program berjalan,” kata Reza.

Asumsi pengembalian selama lima tahun itu, lanjut Reza, karena petani swadaya belum menghasilkan TBS sehingga mereka belum ada penerimaan selama 48 bulan awal. Setelah menghasilkan TBS, petani baru bisa membayar dengan cara mencicil dan skema tersebut dirasa lebih adil.

Tentang IPOP

Pada 2014, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) memfasilitasi penandatanganan sebuah ikrar bersama antara beberapa perusahaan kelapa sawit berskala besar untuk sebuah tujuan bersama yaitu mengupayakan industri kelapa sawit yang berkelanjutan dengan mengimplementasikan praktik bertanggung jawab tanpa deforestasi, menghargai hak asasi manusia dan komunitas, serta memastikan tersalurkannya nilai-nilai yang dijunjung tinggi para pemegang saham melalui upaya kolaboratif dari berbagai pemangku kepentingan terkait.

Komitmen ini direalisasikan menjadi Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP) yang ditandatangani pada Konferensi Tingkat Tinggi tentang Iklim pada Sidang Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) oleh Wilmar, GAR, Cargill, dan Asian Agri. Musim Mas ikut menandatangani komitmen ini pada Maret 2015 dan disusul Astra Agro Lestari pada Februari 2016. Visi IPOP adalah mendorong praktik bisnis kelapa sawit yang berkelanjutan di Indonesia melalui kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terkait untuk mewujudkan sektor kelapa sawit yang berkelanjutan. Sedangkan misinya adalah terciptanya lingkungan dan situasi kondusif di Indonesia yang dibutuhkan untuk mendukung produksi kelapa sawit yang berkelanjutan yang bebas dari deforestasi, memperluas manfaat sosial, dan meningkatkan daya saing kelapa sawit Indonesia.

Kontak Manajemen IPOP

Gita Syahrani

Senior Programme Manager

Email : gita.syahrani@palmoilpledge.id

T : 021 – 5290 1941/2

F : 021- 5290 1949

Kontak Media Resmi

Asti Putri

Tim Komunikasi

Email: asti@indonesiacomm.com

T. 021- 5793 6477

F. 021- 5793 6478

About The Author

Related Posts

Leave a Reply