Pendiri PT Pharos Indonesia Meninggal Dunia karena Sakit

SIARAN PERS

Untuk Diterbitkan                 

Drs Eddie Lembong Apt Berpulang Karena Sakit

Pendiri PT Pharos Indonesia tersebut menderita gagal ginjal sejak 2010

Jakarta, 1 November 2017 – Dunia farmasi Tanah Air berduka. Drs Eddie Lembong Apt, pendiri pabrik obat terkemuka di Indonesia yakni PT Pharos Indonesia, berpulang hari ini, Rabu (1/11/2017) pukul 15.38 WIB di RS Graha Kedoya, Jakarta Barat, karena sakit. Almarhum diketahui menderita gagal ginjal sejak akhir 2010.

Pria kelahiran Palasa, Tinombo (Gorontalo) pada 30 September 1936 tersebut meninggal dalam usia 81 tahun. Drs Eddie Lembong Apt meninggalkan seorang istri, Melly Saliman, dan tiga putra, yakni Andre Arief Lembong, Raymond Budi Lembong, dan Roy Rachmat Lembong.

Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Farmasi tersebut dikenal aktif berorganisasi di masa Orde Baru —baik di bidang organisasi [Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia] maupun bisnis. Ia bahkan pernah menerima penghargaan FAPA Ishidate Award (1996), suatu penghargaan bergengsi di bidang farmasi internasional.

Kiprahnya tersebut mendapatkan perhatian dari peneliti seperti Andew J Macintyre, dalam bukunya Business and Politics in Indonesia (1991) dan William A Muraskin, War Against Hepatitis B (1995). Lahirnya era reformasi dan ramainya partisipasi etnis Tionghoa ke dalam ranah organisasi, membuat Eddie Lembong semakin sibuk dengan urusan kemasyarakatan.

Ia sempat menjadi wakil ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) sebelum akhirnya menjadi salah satu pendiri dan Ketua Umum pertama Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI), yang dideklarasikan 10 April 1999. Pemilihan nama “Indonesia-Tionghoa” ini menunjukkan sikap politiknya dan rekan-rekannya, yang pertama-tama dengan tegas menyatakan bahwa mereka adalah orang Indonesia.

Selain mendirikan INTI, Drs Eddie Lembong Apt juga mendirikan Yayasan Nation Building (Nabil) yang lahir pada 30 September 2006. Organisasi nirlaba ini  memfokuskan kegiatannya pada dua hal. Pertama, memperkuat karakter bangsa. Untuk itu Nabil menawarkan gagasan “Penyerbukan Silang Antarbudaya” (Cross Cultural Fertilization).

Fokus kedua Nabil terkait dengan golongan Tionghoa. Dalam istilah cendekiawan muda Dr Yudi Latif, Nabil berkomitmen “untuk membawa komunitas Tionghoa dari pinggiran menuju ruang tengah kebangsaan Indonesia”.

“Kami sangat kehilangan sosok beliau sebagai pembimbing, guru, dan ayah kami. Tetapi, dalam melewati tantangan ke depan kata-kata bijak beliau lah yang menguatkan kami, yakni hemat, kerja keras, ulet, berwawasan luas, dan jujur. Ini yang menjadi landasan kami dalam membangun bisnis di dalam perusahaan ini,” menurut Janto Kusmanto, President Director PT Pharos Indonesia.

Kontribusi Drs Eddie Lembong Apt lainnya adalah dalam soal penghapusan secara resmi istilah “Cina” –yang dianggap merendahkan—menjadi “Tionghoa” oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 12 Maret 2014 melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014 tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Nomor SE-06/Pres.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967.

Semua kiprah tersebut rupanya diapresiasi juga oleh almamaternya. Dalam rangka perayaaan ulang tahun ITB yang ke 94 pada Juli 2014, ia menerima  “Penghargaan Ganesa Wirya Jasa Adiutama” dengan pertimbangan: “Drs Eddie Lembong, Apt telah menunjukkan jasa serta kontribusi kepada Institut Teknologi Bandung dan Institusi di Indonesia, sehingga dipandang memenuhi syarat untuk mendapatkan Penghargaan Ganesa Wirya Jasa Adiutama”

Jenazah Drs Eddie Lembong Apt saat ini disemayamkan di Rumah Duka Grand Heaven Ruang 109,110, 111, dan akan dimakamkan di San Diego Hills, Karawang. Sebelumnya, sejak akhir 2010 hingga Oktober 2017, almarhum mendapatkan perawatan intensif di Singapura dan Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Daniel Thian

General Manager PT Pharos Indonesia

Jalan Limo No. 40, Permata Hijau,

Kebayoran Lama, Jakarta Selatan

Telepon: (021) 7262021

About The Author

Related Posts

Leave a Reply